Kamis, 03 Mei 2012

Analisis Cerpen “Sang Mertua”

0 komentar
1. Unsur Interensik

1. Tema

Tema cerpen “Sang Mertua” adalah kedekatan yang membawa bahagia.

Ulasan Tema

Tema cerpen ini cukup menarik. Hal ini dikarenakan, banyak masyarakat saat ini yang tidak mempunyai kedekatan hubungan antara keluarga, dan relasi. Hubungan diantaranya akhirnya menjadi tegang, dan kaku. Hal seperti itu, mengakibatkan kehidupan menjadi kurang berjalan dengan baik karena manusia merupakan makhluk sosial. Oleh karena itu pada cerpen ini, ditunjukan bahwa kedekatan hubungan akan membawakan kebahagiaan bagi yang merasakan kedekatan tersebut. Itulah yang menjadikan tema ini cocok untuk diangkat kedalam cerpen.

2. Alur

Cerita ini diawali dengan kepulangan Marice dari Jogja ke rumahnya. Kepulangannya tersebut membuat terkejut suaminya. Akhirnya Marice dibawa ke dokter dan wajahnya yang sebelah kanan diperiksa. Berbulan-bulan Marice menjadi pasien beberapa rumah sakit dan gonta-ganti dokter, namun kondisinya tidak semakin baik. Setahun kemudian, Marice kembali memeriksakan dirinya ke rumah sakit khusus kanker dan hasilnya ternyata ia divonis stadium tiga. Para dokter juga sudah angkat tangan untuk mengangkat kankernya tersebut. Akhirnya surat dari kampung halaman suaminya Marice datang. Marice pun memutuskan untuk mengunjungi mertuanya. Hal itu membuat suaminya bahagia. Sesampainya di sana, dengan segera Marice bersimpuh di dekat tempat tidur sang mertuanya. Sang mertua yang terkejut, hanya dapat mengangguk-anggukan kepala. Ia rupanya kesulitan untuk bangun. Hari demi hari dilewati Marice dengan mertuanya. Lama-kelamaan mereka berdua menjadi dekat. Saudara-saudara suaminya pun menjadi ramah dengan Marice. Ibu mertuanya juga semakin membaik kesehatannya. Cerita ini diakhiri dengan diperiksanya Marice oleh dokter 1 tahun kemudian. Betapa terkejutnya Marice, mendapati bahwa gumpalan daging dan akar-akarnya semua telah dicabut. Kini wajahnya telah dijahit kembali dengan lapisan dari kulit perutnya.

Ulasan Alur

Alur cerpen “Sang Mertua” adalah alur maju. Hal ini dapat dibuktikan dari tidak adanya cerita yang menceritakan keadaan masa lampau. Alur maju ini sangat cocok untuk menceritakan tema cerpen ini karena pada awal cerita, sudah dikatakan mengenai penyakit yang diderita oleh Marice, sehingga para pembaca pun menjadi penasaran bagaimana kelanjutan dari penyakitnya itu. Oleh karena itu alur maju sangat cocok. Sedangkan apabila memakai alur flash back, yang ada para pembaca menjadi bingung akan penyakit yang diderita dan merasa terlalu bertele-tele karena pada awal telah diberi tahu apa penyakit Marice sehingga para pembaca ingin mengetahui bagiamana kelanjutannya dan tidak diperlukan flash back sebelum penyakit tersebut.

3. Penokohan

Ada beberapa tokoh yang mendukung cerpen “Sang Mertua”. Tokoh-tokoh tersebut adalah :

a. Marice : Merupakan tokoh yang baik hatinya. Tokoh ini menderita penyakit kanker stadium tiga. Ia memiliki sikap tidak mudah putus asa dan hal tersebut terbukti ketika ia bertekad dalam hati tidak ingin mati. Tokoh ini juga selalu berfikir tidak ada yang mustahil, perhatian kepada sesamanya yang ada disekitarnya dan khawatiran. Hal ini terbukti ketika ia cemas akan perasaan suaminya yang dapat saja berpaling ke wanita lain.

b. Suami Marice : Merupakan tokoh yang sangat perhatian dengan Marice. Ia sangat mesra dengan Marice. Tokoh ini juga setia. Hal ini dibuktikan dengan tidak berpalingnya ia ke wanita lain meskipun istrinya sedang mengalami penyakit kanker stadium tiga. Tokoh ini juga khawatiran. Hal itu dapat dilihat dari kecemasannya melihat kepulangan istrinya dan dengan segera membawanya ke dokter.

c. Mertua : Tokoh ini memiliki pendirian yang keras. Hal ini dapat dilihat dari cerita para saudara-saudaranya sang suami. Sang tokoh ini juga sedang mengalami kondisi yang cukup parah dikarenakan ditinggal oleh sang suami sehingga ia sulit bangun dari tempat tidur. Tokoh ini memiliki suami yang sabar dan penuh dengan pertimbangan.

d. Saudara-saudara sang suami : Tokoh ini merupakan tokoh pembantu dalam cerpen. Tokoh tidak begitu peduli dengan ibunya. Hal ini dibuktikan ketika mereka hanya meletakan makanan ibunya disampingnya sehingga ibunya tidak dapat makan sendiri.

4. Latar / Setting

a. Latar Tempat

Peristiwa dalam cerpen “Sang Mertua” terjadi di beberapa tempat. Rincian tempat-tempat tersebut ialah sebagai berikut :

- Di Jogja : Tempat pertama kalinya Marice merasakan kepalanya terasa pusing, berat dan sebelah wajahnya terasa nyeri.

- Di Jakarta : Tempat tinggal Marice dengan suaminya. Di sini, Marice pergi ke berbagai dokter namun tidak menunjukan keadaan yang membaik.

- Rumah sakit khusus kanker : Tempat pertama dimana Marice divonis menderita kanker stadium tiga.

- Kampung halaman suaminya : Tempat tinggal Ibu dari suami Marice beserta saudara-saudara dari suaminya. Disini, tempat pertama kali Marice merawat mertuanya dengan penuh ikhlas dan ketulusan hati. Disini pula tempat kenangan indah antara Ibunya sang suami dengan ayahnya.

b. Latar Waktu

Peristiwa dalam cerpen “Sang Mertua” terjadi di kalangan masyarakat yang cukup modern. Hal ini dikarenakan, sudah adanya dokter, obat-obatan serta peralatan-peralatan yang sudah canggih untuk mengobati kanker.

5. Pesan

Pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui karyanya adalah :

î Hendaklah kau mengingat orang tua yang sudah berjasa dalam kehidupanmu agar kelak kau bisa hidup bahagia.

Ulasan Pesan

Pesan di atas cukup baik dan cocok untuk masyarakat kita sekarang ini. Mengingat semakin banyaknya orang yang durhaka kepada orang tuanya. Cerpen ini menunjukan kepada para pembaca agar kita semua tetap ingat, peduli dan tidak lupa akan orang tua yang telah berjasa dalam kehidupan kita karena apabila sikap kita seperti itu kita akan mendapat kebahagiaan di kehidupan kita kedepannya.

2. Unsur Ekstrinsik

1. Penyajian

Cerpen ini termasuk cerpen yang cukup menarik. Namun, gambar dalam cerpen ini kurang mendukung dan makna yang didapat dari melihat gambar ini sulit untuk dimengerti. Terdapat seorang perempuan yang sepertinya merupakan sosok dari Marice. Perempuan tersebut menutup mukanya dengan batu yang berbentuk persegi. Hal itu mungkin dikarenakan, ia malu akan mukanya yang sudah berubah karena sakitnya tersebut. Namun, bisa saja ia malu karena ia sempat melupakan mertuanya.

2. Bahasa

Bahasa yang digunakan dalam cerpen ini cukup mudah dimengerti. Kalimat-kalimat yang digunakan adalah kalimat-kalimat baku dengan susunan yang baik.

3. Hubungan dengan kehidupan masyarakat

Hubungan cerpen ini dengan kehidupan masyarakat adalah menggambarkan bahwa kehidupan masyarakat saat ini, sudah semakin banyak masyarakat yang lupa dengan orang tua yang telah berjasa dengan mereka. Sebagian dari mereka juga harus diberi teguran terlebih dahulu seperti penyakit yang diderita oleh Marice agar sadar akan kelalaiannya tersebut.

Leave a Reply

Tinggalkan Komentar...! Jangan lupa follow ya

Welcome To My Blog™ l IZAL-INK™Copyright © 2011. Design By :Rizal.S. Supported : Blogger

Shared For All Information l You Can Find Everything What You Find Here l The Largest Indonesian Hi-Tech l IT Community - NEWS UPDATE!