Kamis, 27 September 2012

Penelitian dan Pengabdian dalam Kemasan Ngayah

0 komentar

Puluhan wanita seusia murid SD mengenakan busana adat dengan  dominasi warna putih dan kuning, serta rangkaian janur sebagai perhiasan di kepala, menunjukkan kepiawaiannya dalam menari.
Mereka tampil lincah dengan gerakan tubuh mengikuti alunan suara gamelan, musik tradisional Bali yang mengiringinya.
Tarian Rejang yang dibawakan itu merupakan kelengkapan kegiatan ritual berskala besar, di samping dalam waktu yang bersamaan dipentaskan kesenian topeng, arja dan wayang kulit, maupun jenis kesenian langka lainnya.
Pementasan aneka jenis kesenian tersebut merupakan kelengkapan kegiatan ritual yang digelar masyarakat Bali, baik secara perorangan dalam lingkungan rumah tangga maupun yang terhimpun dalam wadah desa pekraman (adat) di Pulau Dewata.
Bali memang tiada hari tanpa kegiatan ritual dan upaya itu mempunyai kaitan erat dengan seni yang mampu memberikan vibrasi dan sinar kedamaian, sekaligus  kesejukan kepada setiap hati sanubari umat manusia.
Institut Seni Indonesia (ISI) mulanya mengawali kegiatan "ngayah" yakni bekerja secara ikhlas dengan menari dan menabuh untuk membantu kelancaran kegiatan ritual yang digelar masyarakat setempat, tutur Rektor ISI Denpasar, Prof Dr I Wayan Rai S.MA.
Pementasan "ngayah" itu dikemas dalam bentuk penelitian dan pengabdian masyarakat, sehingga sama-sama memperoleh manfaat dari kegiatan ritual yang digelar masyarakat Pulau Dewata.
Rintisan lembaga pendidikan tinggi seni di Pulau Dewata itu pula memberikan inspirasi Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DP2M) Ditjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menggagas komunitas "ngayah" sebagai bentuk pengabdian lembaga pendidikan tinggi kepada masyarakat.
Komunitas "ngayah" yang dibentuk di Bali itu melibatkan empat perguruan tinggi yang terdiri atas  Universitas Saraswati, Universitas Udayana, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, dan Undiksa Singaraja.
Bahkan ISI Denpasar yang lebih awal menerapkan pengabdian itu memfasilitasi pelatihan penyusunan  usulan program pengabdian kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang melibatkan peserta dari empat lembaga perguruan tinggi negeri dan swasta di Bali.
"Ngayah" merupakan salah satu bentuk pengabdian masyarakat, pendidikan dan penelitian, sekaligus membantu secara ikhlas untuk kelancaran kegiatan ritual di pura yang digelar masyarakat desa adat di Bali sekaligus melakukan penelitian.
Munculnya gagasan untuk melakukan penelitian sesuai bidang ilmu yang digeluti itu memerlukan dukungan, kerja sama dan jaringan antarperguruan tinggi dalam melaksanakan pengabdian kepada masyarakat, sebagai salah satu bentuk tri dharma perguruan tinggi.
Pengabdian masyarakat dengan model "ngayah"  telah diterapkan ISI Denpasar, antara lain menyuguhkan tabuh dan tari yang dibawakan oleh mahasiswa, termasuk melibatkan mahasiswa dari berbagai negara di belahan dunia yang sedang menimba ilmu di Bali, sebagai salah satu kelengkapan kegiatan ritual.
Aplikasi seni
Prof Rai menuturkan, kegiatan "Ngayah" pernah dilakukan sampai tiga kali dalam sehari, sesuai permohonan masyarakat yang telah disampaikan jauh sebelumnya.
Kegiatan "Ngayah yang melibatkan dosen dan mahasiswa itu mulai dari Pura Pujut Gempel, Desa Kusamba, Kabupaten Klungkung untuk mendukung kegiatan ritual "Ngenteg Linggih Karya Pedudusan Agung" pada pagi hari.
Rombongan seniman tari, karawitan dan pedalangan berbaur dengan masyarakat menyuguhkan gamelan Gong Kebyar untuk mengiringi Tari Rejang Dewa, Baris Gede, dan Tari Topeng. Menyusul kegiatan kedua di Panti Asuhan Dharma Jati,  Desa Bakas Klungkung yang juga melakukan kegiatan ritual berskala besar, sehingga pementasan aneka jenis kesenian menjadi salah satu persyaratan.
Alunan tabuh gamelan gong gede yang ditampilkan ISI Denpasar menambah suasana religius di Pura Dalem Ubud, mengiringi tari rejang dewa, baris gede serta tari topeng.
Pementasan itu tidak hanya dilakukan mahasiswa dan dosen ISI Denpasar, namun sering kali berkolaborasi dengan masyarakat dan seniman setempat sehingga penampilannya semakin menarik dan unik.
Prof Rai menilai, kegiatan "ngayah" yang dilakukan itu sekaligus  mengaplikasikan seni ke tengah-tengah kehidupan masyarakat Pulau Dewata melalui kemasan penelitian dan pengabdian, saat masyarakat menggelar kegiatan ritual berskala besar.
Kegiatan yang dilakukan ke tengah-tengah masyarakat, baik perkotaan maupun pelosok pedesaan itu sebenarnya saling mengisi dan membantu satu sama lain, namun selama ini seolah-olah masyarakat yang membutuhkan bantuan dari lembaga pendidikan tinggi seni itu.
Oleh sebab itu jauh sebelum masyarakat dalam lingkungan desa adat menggelar kegiatan ritual berskala besar, para prajuru desa adat (tokoh) datang ke ISI dan memohon bantuan lembaga pendidikan tinggi seni itu ikut menyukseskan kegiatan yang dilaksanakan dengan menyuguhkan pementasan tabuh dan tari.
Permintaan masyarakat terhadap peranserta ISI dalam menyukseskan kegiatan ritual itu sebenarnya mengandung makna untuk ikut menyukseskan peran dan tanggung jawab yang diemban ISI dalam mencetak sarjana seni.
Perhatian yang besar  itu menunjukkan, masyarakat menghargai kehadiran para dosen dan mahasiswa di tengah-tengah lingkungan desa adat dalam mengaplikasikan karya-karya seni.
Pengabdian yang secara rutin dilakoni mahasiswa dan dosen ISI, menjadikan lembaga pendidikan tinggi seni itu mempunyai kesibukan yang luar biasa dalam menyelesaikan tugas-tugas kampus maupun luar kampus.
Upaya itu secara tidak langsung mampu memberikan citra yang baik bagi ISI, baik masyarakat lokal, nasional maupun internasional, sehingga lembaga pendidikan tinggi seni itu mulai dikenal masyarakat internasional, tutur Prof Rai.


sekian postingan saya hari ini ,terimakasih atas kunjungan anda,semoga bermanfaat:)
Ditulis oleh : Rizal.S

Leave a Reply

Tinggalkan Komentar...! Jangan lupa follow ya

Welcome To My Blog™ l IZAL-INK™Copyright © 2011. Design By :Rizal.S. Supported : Blogger

Shared For All Information l You Can Find Everything What You Find Here l The Largest Indonesian Hi-Tech l IT Community - NEWS UPDATE!