Kamis, 27 September 2012

Potensi Budaya di Kudus Dipromosikan Lewat Kirab

0 komentar


KOMPAS/ALBERTUS HENDRIYO WIDI
Ilustrasi
KUDUS, KOMPAS.com--Pemerintah Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Selasa, menggelar kirab budaya untuk mempromosikan berbagai potensi kesenian dan budaya yang berasal dari daerah perkotaan hingga pedesaan di daerah setempat.
Kirab budaya yang dimulai pukul 13.00 WIB itu, diikuti 45 peserta dengan jumlah personel mencapai ribuan orang.
Masing-masing peserta menampilkan kreasi yang berbeda-beda, seperti menampilkan tradisi "Ampyang Maulid" dari Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus, ruwat bocah kembar, jaran kepang, seni tari religi, seni tong tek, cerita masyarakat soal masjid bubar, proses tumpak punjen, visualisasi pembuatan rokok dan tradisi raup sendang pengilon Terban.
Kirab budaya yang diselenggarakan setiap tahun, tetap mampu menyedot ribuan pengunjung, meskipun penampilan dari masing-masing peserta terkesan monoton.
Meski demikian, warga dari berbagai daerah di Kudus mulai memadati kawasan Alun-alun Kudus sejak pukul 12.00 WIB, meskipun kirab budaya baru dimulai sekitar pukul 13.00 WIB.
Bahkan, pengunjung memadati panggung utama yang ditempati Bupati Kudus Musthofa dan sejumlah SKPD dan tamu undangan agar melihat dengan jelas setiap peserta yang menampilkan kebolehannya di depan bupati dan sejumlah pejabat serta masyarakat.
Pengunjung tidak hanya memadati kawasan Alun-alun, bahkan rute yang dilalui peserta kirab juga padat pengunjung, sehingga petugas harus ekstra ketat memberikan akses jalan bagi peserta yang hendak melanjutkan kirab.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus Hadi Sucipto mengatakan, kirab budaya tahun ini justru lebih menarik, karena diawali dengan kirab kereta yang diikuti Bupati Kudus, SKPD, camat, dan Muspida.
Bahkan, Bupati Kudus beserta pejabat lainnya mengenakan pakaian khas adat Kota Kudus.
Kirab kereta tersebut dipimpin oleh manggala yudho (panglima perang), diikuti subho manggala yudho (wakil panglima perang), pangarsaning praja (bupati), pangembating praja (Muspida), serta punggowo praja (pegawai negara).
Di belakang rombongan tersebut, ratusan prajurit dengan membawa tombak, pataka, dan bendera merah putih dan berbagai peralatan keseharian warga, sebagai simbul perlindungan, dan dinamika masyarakat di lereng Muria.
Rute yang dilalui, yakni Pendopo Kudus, Jalan A. Yani, Tugu Identitas, Jalan Lukmono Hadi, Jalan Ramelan dan kembali ke panggung utama di Alun-alun Kudus untuk melihat peserta kirab budaya melintas.
Sedangkan rute peserta kirab budaya, yakni dari depan SMP 3 Kudus yang ada di Jalan Lukmonohadi-Jalan Ramelan hingga menuju panggung utama yang ada di kawasan Alun-alun Kudus.
Adapun jumlah peserta kirab, katanya, mencapai 45 peserta dengan jumlah personel dari masing-masing peserta bervariasi.
Peserta tidak hanya melibatkan seniman lokal dan masyarakat umum, melainkan para pelajar dari berbagai sekolah tingkat SMP hingga SMA di Kudus juga ikut terlibat.
Tujuan kirab budaya, katanya, untuk memberikan hiburan bagi masyarakat, ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT, dan upaya melestarikan kesenian dan budaya tradisional di Kudus bertepatan dengan hari jadi ke-463 Kota Kudus.
"Dengan kirab seperti ini, diharapkan masyarakat luas juga mengetahui potensi kesenian dan budaya di masing-masing daerah di Kudus," ujarnya.

sekian postingan saya hari ini ,terimakasih atas kunjungan anda,semoga bermanfaat:)
Ditulis oleh : Rizal.S

Leave a Reply

Tinggalkan Komentar...! Jangan lupa follow ya

Welcome To My Blog™ l IZAL-INK™Copyright © 2011. Design By :Rizal.S. Supported : Blogger

Shared For All Information l You Can Find Everything What You Find Here l The Largest Indonesian Hi-Tech l IT Community - NEWS UPDATE!